Rabu, 10 Juni 2015

Menangkan Kontestasi ASEAN



Oleh: Remy Sosiawan Wijaya
Mahasiswa Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB, Ketua Umum Himpro REESA, dan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor

Negara-negara ASEAN memiliki potensi yang sangat besar dan luar biasa. Selain memiliki pangsa pasar sebesar lebih dari 600 juta orang, ASEAN memiliki potensi menjadi basis produksi yang besar khususnya sektor agri dan manufaktur.
Banyak penelitian yang memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi regional ASEAN akan menyamai pertumbuhan ekonomi Tiongkok di tahun 2018. Hal ini bukan tidak mungkin mengingat negara-negara anggota ASEAN memiliki sumber daya alam yang melimpah serta sumber daya manusia yang baik. Indonesia yang memiliki keunggulan komparatif di komoditas Crude Palm Oil (CPO), Malaysia dengan mobil Proton-nya, dan Thailand dengan berasnya.
Indonesia sebagai negara ASEAN dituntut untuk memenangkan persaingan regional ASEAN. Dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, merupakan tantangan awal Indonesia untuk meningkatkan adrenalinenya dan mulai memikirkan strategi memenangkan persaingan.
Saat ini, Indonesia berada di posisi ke 34 dunia dalam hal Indeks Daya Saing. Akan tetapi posisi ini masih kalah dibandingkan 3 negara ASEAN lainnya. Penjabarannya bisa dilihat yakni Singapura di peringkat ke-2, Malaysia di peringkat ke-20, dan Thailand di peringkat ke-31. Sehingga menjadi kekhawatiran bersama Indonesia akan kalah bersaing di tingkat ASEAN yang di akhir tahun 2015 ini segera dimulai dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. 
            Untuk memenangkan kompetisi regional ASEAN ini, Indonesia dapat melakukan beberapa hal. Pertama, siapkan mental. Mengapa harus siap mental? Dengan dimulainya MEA 2015, tingkat kompetisi akan semakin tinggi, bukan hanya kompetisi produk melainkan kompetisi sumber daya manusia (SDM). Siapa yang paling mampu dan cepat melakukan adaptasi, meningkatkan efisiensi, dan bekerja dengan kualitas tinggi, maka merekalah yang akan memenangkan kontestasi.
            Kedua, tingkatkan daya saing masyarakat. Point ini bisa kita lakukan dengan memulai menguasai bahasa asing, misal Inggris, Deutsch, dan Thailand. Mempelajari bahasa negara lain bukan berarti seseorang kehilangan rasa nasionalismenya. Dengan menguasai bahasa asing, seseorang akan memiliki nilai tambah dalam percaturan tenaga ahli di negara-negara ASEAN. Selain itu seseorang juga harus meningkatkan skill-nya. Jumlah manusia yang begitu besar yang dimiliki Indonesia tanpa diiringi peningkatan kualitas, maka hanya akan menjadi beban pemerintah yang sulit dimanfaatkan memenuhi kebutuhan sektor industri dan jasa.
            Ketiga, mulai menjalin kemitraan yang strategis. Ibarat sebuah lahan pertanian, ASEAN adalah lahan yang sangat luas dan subur. Indonesia tidak dapat mengelolanya sendiri akan tetapi membutuhkan bantuan dan mitra sehingga dapat menghasilkan output yang baik. Tentu mitra yang memiliki visi yang sama serta menguntungkan Indonesia misalnya saja kerjasama dalam hal perdagangan komoditas-komoditas strategis, jasa, maupun manufaktur.
            Secara umum Indonesia sudah menyatu dengan ASEAN, namun yang perlu ditanamkan pada diri kita adalah bahwa kesempatan pasar Indonesia juga ASEAN. Indonesia harus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki dan mampu menggali kesempatan. Selain itu, langkah menuju MEA adalah langkah yang panjang tidak berhenti di 2015. Sehingga perlu penyesuaian yang berkelanjutan serta mengikuti perkembangan terkini agar Indonesia minimal mampu menjadi macan ASEAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar